NaLay_nExtHa


gempa bumi
2 Mei 2009, 05:51
Filed under: bebas
Indonesia Kurang Pakar Gempa Bumi
Indonesia adalah daerah rawan bencana. Tapi sedikit pakar yang menguasai bencana alam.
Sabtu, 20 Desember 2008, 21:13 WIB
Siswanto
(imd.ernet.in)

VIVAnews - Indonesia merupakan daerah rawan bencana, mulai gempa bumi, tsunami, puting beliung, erupsi volkano, longsor sampai banjir. Namun hanya sedikit pakar yang bergerak di bidang itu, terutama ahli gempa bumi.

“Pakar gempa bumi di Indonesia tidak lebih dari 10 orang, padahal Indonesia sangat berpotensi terjadi gempa bumi,” kata Supartoyo, peneliti pemetaan madya di Pusat Volkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, di Yogyakarta, Sabtu 20 Desember 2008.

Bahkan sampai kini belum ada universitas yang membuat fakultas atau jurusan gempa bumi. Menurut dia, Indonesia merupakan negara kepulauan yang rawan bencana gempa bumi dan tsunami. Sebab, kata dia, wilayah ini terletak di tiga pertemuan lempeng tektonik dunia, yaitu lempeng benua Eurasia, samudera Indo-Australia dan lempeng samudera Pasifik. “Hal tersebut mengakibatkan sumber gempa bumi di laut maupun di darat,” ujar Supartoyo.

Lempeng Eurosia, kata dia, bergerak sangat lambat ke arah tenggara dengan kecepatan 0,4 sentimeter per tahun. Lempeng samudera Indo-Australia bergerak ke arah utara dengan kecepatan 7 sentimeter per tahun. Sedangkan lempeng samudera Pasifik merupakan lempeng dengan gerakan paling cepat, yaitu 11 sentimeter per tahun menuju arah barat. “Setiap tahun terjadi 5 hingga 12 kali gempa bumi yang merusak Indonesia,” kata dia.

Namun tiga lempeng itu tidak hanya menimbulkan kerusakan. Ada dampak positif yang ditimbulkan, yaitu berupa cekungan hidrokarbon atau minyak dan gas bumi, potensi energi panas bumi, mineral logam, hasil tambang dn tanah yang subur akibat endapan batuan rombakan gunung api muda.

Untuk mengatasi dampak negatif, kata Supartoyo, harus dilakukan mitigasi bencana gempa bumi untuk mengurangi risiko yang diakibatkan oleh gempa bumi.

“Penataan ada dua cara, nonstrukturl yaitu penataan ruang yang berbasis kebencanaan gempa bumi, peningkatan kemampuan dan kesadaran masyarakat yang bermukim di wilayah gempa,” kata dia.

Laporan Rahardian Yogyakarta



DAMPAK GEMPA
29 April 2009, 06:18
Filed under: bebas

Gempa bumi akhir-akhir ini telah menjadi momok yang manakutkan bagi negara Iindonesia. Belum hilang ingatan kita dari gempa dasyat yang menimpa Nangroe Aceh Darussalam (NAD) yang diikuti oleh gelombang tsunami dan menewaskan 350 ribu orang, bumi Indonesia kembali diguncang gempa yang diikuti gelombang tsunami di Pantai Pangandaran, Ciamis, Jawa Barat.

 

img_0406.jpgimg_0376.jpgimg_0402.jpg
           

Pada hari Senin tanggal 17 Juli 2006 pukul 15:19:22 WIB Indonesia kembali dilanda bencana gempa bumi tektonik yang diikuti gelombang tsunami dengan kekuatan 6,8 Skala Richter. Berdasarkan data dari BMG dicatat bahwa pusat gempa berada pada posisi 9,46 LS – 107,19 BT di laut sejauh 286 km Selatan Bandung pada kedalaman 33 km. Kawasan di sepanjang pantai selatan mulai dari Kabupaten Garut di Provinsi Jawa Barat sampai dengan pantai selatan Provinsi Yogyakarta merupakan daerah yang mengalami dampak kerusakan cukup parah. Tercatat kawasan yang mengalami kerusakan akibat bancana ini yaitu:
v     Pantai Pangandaran (Kabupaten Ciamis)
v     Pameungpeuk (Kabupaten Garut)
v     Cipatujah (Kabupaten Tasikmalaya)
v     Pantai Selatan Cilacap (Kabupaten Cilacap)
v     Pantai Ayah (Kabupaten Kebumen)
v     Pantai Puger
v     Pantai Trenggalek
v      Pantai Samas (Provinsi Yogyakarta)
      Gempa bumi  terjadi secara tiba-tiba dan sangat sukar untuk diprediksi, namun demikian dampak yang diakibatkan gempa bumi dapat di manage sehingga kerugian akibat gempa bumi dapat di kurangi. Salah satu dampak dari gempa bumi yang sangat terasa adalah dampak yang terkait dengan ekonomi. Dampak ekonomi dari gempa bumi meliputi dampak ekonomi langsung (Direct economics losses) seperti bangunan yang hancur dan hancurnya fasilitas-fasilitas umum lainnya serta dampak ekonomi tak langsung (indirect economics losses) seperti guncangan pada dunia bisnis, berkurangnya pendapatan dan meningkatnya pengeluaran sektor publik, dan juga kerugian yang ditanggung individu dan rumah tangga seperti cacat, kematian dan kehilangan pekerjaan.
Untuk direct economics loss, gempa Pangandaran ini cukup besar menghancurkan bangunan-bangunan dan fasilitas-fasilitas umum. Data dari Bappeda mencatat 1781 rumah mengalami rusak berat dan 433 rumah rusak ringan. Begitu juga untuk fasilitas umum seperti pasar mengalami kerusakan yang cukup parah, tercatat 1750 pasar mengalami rusak berat dan 6 pasar mengalami rusak ringan. 17 tempat pelelangan ikan (TPI) mengalami kerusakan berat dan 10 TPI mengalami kerusakan ringan. Hotel pun tidak luput dari amukan gelombang tsunami ini, tercatat  64 hotel mengalami rusak berat dan 3 hotel mengalami rusak berat, belum lagi kerusakan di sektor pertanian, industri, pendidikan, pemerintahan, keuangan, dll.
Untuk indirect economics loss, salah satu yang penting meningkatnya pengeluaran sektor publik. Data Bappeda mencatat kebutuhan dana untuk rehabilitasi pasca tsunami sebesar Rp.402.704.250.000. Sektor ekonomi (pertanian, perikanan dan industri) tercatat sebagai sektor yang membutuhkan dana paling sebesar yaitu sebesar Rp 212.841.920.000 disusul sektor perumahan, infrastruktur dan sosial sebesar  Rp 77.535.510.000, Rp 737.138.430.00 dan Rp 11.262.700.000. Angka yang cukup fantastis dan sangat sulit apabila harus ditanggung sendiri oleh pemerintah daerah Ciamis. oleh sebab itu harus ada bantuan dari Pemerintah Daerah Jawa Barat melalui pos dana tidak tersangka dari APBD (dengan persetujuan DPRD tentunya) dan bahkan bantuan dari pemerintah pusat.



GEMPA BUMI
29 April 2009, 06:11
Filed under: bebas

Gempa bumi adalah getaran yang terjadi permukaan bumi. Gempa bumi biasa disebabkan oleh pergerakan kerak bumi (lempeng bumi). Kata gempa bumi juga digunakan untuk menunjukkan daerah asal terjadinya kejadian gempa bumi tersebut. Bumi kita walaupun padat, selalu bergerak, dan gempa bumi terjadi apabila tekanan yang terjadi karena pergerakan itu sudah terlalu besar untuk dapat ditahan.

Daftar isi [sembunyikan]
1 Tipe gempa bumi
2 Penyebab terjadinya gempa bumi
3 Sejarah gempa bumi besar pada abad ke-20 dan 21
4 Persiapan menghadapi gempa bumi
5 Catatan dan rujukan

[sunting] Tipe gempa bumi
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Gempa bumi tektonik
Gempa bumi tektonik disebabkan oleh perlepasan tenaga yang terjadi karena pergeseran lempengan plat tektonik seperti layaknya gelang karet ditarik dan dilepaskan dengan tiba-tiba. Tenaga yang dihasilkan oleh tekanan antara batuan dikenal sebagai kecacatan tektonik. Teori dari tektonik plate (plat tektonik) menjelaskan bahwa bumi terdiri dari beberapa lapisan batuan, sebagian besar area dari lapisan kerak itu akan hanyut dan mengapung di lapisan seperti salju. Lapisan tersebut begerak perlahan sehingga berpecah-pecah dan bertabrakan satu sama lainnya. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya gempa tektonik.[1] Gempa bumi tektonik memang unik. Peta penyebarannya mengikuti pola dan aturan yang khusus dan menyempit, yakni mengikuti pola-pola pertemuan lempeng-lempeng tektonik yang menyusun kerak bumi. Dalam ilmu kebumian (geologi), kerangka teoretis tektonik lempeng merupakan postulat untuk menjelaskan fenomena gempa bumi tektonik yang melanda hampir seluruh kawasan, yang berdekatan dengan batas pertemuan lempeng tektonik. Contoh gempa tektonik ialah seperti yang terjadi di Yogyakarta, Indonesia pada Sabtu, 27 Mei 2006 dini hari, pukul 05.54 WIB,[2]

[sunting] Penyebab terjadinya gempa bumi
Kebanyakan gempa bumi disebabkan dari pelepasan energi yang dihasilkan oleh tekanan yang dilakukan oleh lempengan yang bergerak. Semakin lama tekanan itu kian membesar dan akhirnya mencapai pada keadaan dimana tekanan tersebut tidak dapat ditahan lagi oleh pinggiran lempengan. Pada saat itu lah gempa bumi akan terjadi.

Gempa bumi biasanya terjadi di perbatasan lempengan lempengan tersebut. Gempa bumi yang paling parah biasanya terjadi di perbatasan lempengan kompresional dan translasional. Gempa bumi fokus dalam kemungkinan besar terjadi karena materi lapisan litosfer yang terjepit kedalam mengalami transisi fase pada kedalaman lebih dari 600 km.

Beberapa gempa bumi lain juga dapat terjadi karena pergerakan magma di dalam gunung berapi. Gempa bumi seperti itu dapat menjadi gejala akan terjadinya letusan gunung berapi. Beberapa gempa bumi (jarang namun) juga terjadi karena menumpuknya massa air yang sangat besar di balik dam, seperti Dam Karibia di Zambia, Afrika. Sebagian lagi (jarang juga) juga dapat terjadi karena injeksi atau akstraksi cairan dari/ke dalam bumi (contoh. pada beberapa pembangkit listrik tenaga panas bumi dan di Rocky Mountain Arsenal. Terakhir, gempa juga dapat terjadi dari peledakan bahan peledak. Hal ini dapat membuat para ilmuwan memonitor tes rahasia senjata nuklir yang dilakukan pemerintah. Gempa bumi yang disebabkan oleh manusia seperti ini dinamakan juga seismisitas terinduksi

[sunting] Sejarah gempa bumi besar pada abad ke-20 dan 21

Kerusakan akibat gempa bumi di San Francisco pada tahun 1906
Sebagian jalan layang yang runtuh akibat gempa bumi Loma Prieta pada tahun 198912 September 2007 – Gempa Bengkulu dengan kekuatan gempa 7,9 Skala Richter
9 Agustus 2007 – Gempa bumi 7,5 Skala Richter
6 Maret 2007 – Gempa bumi tektonik mengguncang provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Laporan terakhir menyatakan 79 orang tewas [3].
27 Mei 2006 – Gempa bumi tektonik kuat yang mengguncang Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah pada 27 Mei 2006 kurang lebih pukul 05.55 WIB selama 57 detik. Gempa bumi tersebut berkekuatan 5,9 pada skala Richter. United States Geological Survey melaporkan 6,2 pada skala Richter; lebih dari 6.000 orang tewas, dan lebih dari 300.000 keluarga kehilangan tempat tinggal.
8 Oktober 2005 – Gempa bumi besar berkekuatan 7,6 skala Richter di Asia Selatan, berpusat di Kashmir, Pakistan; lebih dari 1.500 orang tewas.
26 Desember 2004 – Gempa bumi dahsyat berkekuatan 9,0 skala Richter mengguncang Aceh dan Sumatera Utara sekaligus menimbulkan gelombang tsunami di samudera Hindia.
26 Desember 2003 – Gempa bumi kuat di Bam, barat daya Iran berukuran 6.5 pada skala Richter dan menyebabkan lebih dari 41.000 orang tewas.
21 Mei 2002 – Di utara Afghanistan, berukuran 5,8 pada skala Richter dan menyebabkan lebih dari 1.000 orang tewas.
26 Januari 2001 – India, berukuran 7,9 pada skala Richter dan menewaskan 2.500 ada juga yang mengatakan jumlah korban mencapai 13.000 orang.
21 September 1999 – Taiwan, berukuran 7,6 pada skala Richter, menyebabkan 2.400 korban tewas.
17 Agustus 1999 – barat Turki, berukuran 7,4 pada skala Richter dan merenggut 17.000 nyawa.
25 Januari 1999 – Barat Colombia, pada magnitudo 6 dan merenggut 1.171 nyawa.
30 Mei 1998 – Di utara Afghanistan dan Tajikistan dengan ukuran 6,9 pada skala Richter menyebabkan sekitar 5.000 orang tewas.
17 Januari 1995 – Di Kobe, Jepang dengan ukuran 7,2 skala Richter dan merenggut 6.000 nyawa.
30 September 1993 – Di Latur, India dengan ukuran 6,0 pada skala Richter dan menewaskan 1.000 orang.
12 Desember 1992 – Di Flores, Indonesia berukuran 7,9 pada skala richter dan menewaskan 2.500 orang.
21 Juni 1990 – Di barat laut Iran, berukuran 7,3 pada skala Richter, merengut 50.000 nyawa.
7 Desember 1988 – Barat laut Armenia, berukuran 6,9 pada skala Richter dan menyebabkan 25.000 kematian.
19 September 1985 – Di Mexico Tengah dan berukuran 8,1 pada Skala Richter, meragut lebih dari 9.500 nyawa.
16 September 1978 – Di timur laut Iran, berukuran 7,7 pada skala Richter dan menyebabkan 25.000 kematian.
4 Maret 1977 – Vrancea, timur Rumania, dengan besar 7,4 SR, menelan sekitar 1.570 korban jiwa, diantaranya seorang aktor Rumania Toma Caragiu, juga menghancurkan sebagian besar dari ibu kota Rumania, Bukares (Bucureşti).
28 Juli 1976 – Tangshan, China, berukuran 7,8 pada skala Richter dan menyebabkan 240.000 orang terbunuh.
4 Februari 1976 – Di Guatemala, berukuran 7,5 pada skala Richter dan menyebabkan 22.778 terbunuh.
29 Februari 1960 – Di barat daya pesisir pantai Atlantik di Maghribi pada ukuran 5,7 skala Richter, menyebabkan kira-kira 12.000 kematian dan memusnahkan seluruh kota Agadir.
26 Desember 1939 – Wilayah Erzincan, Turki pada ukuran 7,9, dan menyebabkan 33.000 orang tewas.
24 Januari 1939 – Di Chillan, Chile dengan ukuran 8,3 pada skala Richter, 28.000 kematian.
31 Mei 1935 – Di Quetta, India pada ukuran 7,5 skala Richter dan menewaskan 50.000 orang.
1 September 1923 – Di Yokohama, Jepang pada ukuran 8,3 skala Richter dan merenggut sedikitnya 140.000 nyawa.

[sunting] Persiapan menghadapi gempa bumi
Persiapan untuk keadaan darurat
Menentukan tempat-tempat berlindung yang aman jika terjadi gempa bumi. Tempat berlindung yang aman adalah tempat yang yang dapat melindungi anda dari benda-benda yang jatuh atau mebel yang ambruk, misalnya di bawah meja.
Menyediakan air minum untuk keperluan darurat. Bekas botol air mineral dapat digunakan untuk menyimpan air minum. Kebutuhan air minum biasanya 2 sampai 3 liter sehari untuk satu orang.
Menyiapkan tas ransel yang berisi (atau dapat diisi) barang-barang yang sangat dibutuhkan di tempat pengungsian. Barang-barang yang sangat diperlukan dalam keadaan darurat misalnya:
Lampu senter berikut baterai cadangannya
Air minum
Kotak P3K berisi obat menghilangkan rasa sakit, plester, pembalut dan sebagainya
Makanan yang tahan lama seperti biskuit
Sejumlah uang tunai
Buku tabungan
Korek api
Lilin
Helm
Pakaian dalam
Barang-barang berharga yang harus dibawa di saat keadaan darurat
Mengencangkan mebel yang mudah rubuh (seperti lemari pakaian) dengan langit-langit atau dinding dengan menggunakan logam berbentuk siku atau sekrup agar tidak mudah rubuh di saat terjadi gempa bumi
Mencegah kaca jendela atau kaca lemari pakaian agar tidak pecah berantakan di saat gempa bumi dengan memilih kaca yang kalau pecah tidak berserakan dan melukai orang (Safety Glass) atau dengan menempelkan kaca film
Mencari tahu lokasi tempat evakuasi dan rumah sakit yang terdekat. Jika pemerintah setempat tidak mempunyai tempat evakuasi, pastikan anda tidak pergi ke tempat yang lebih rendah atau tempat yang dekat dengan pinggir laut/sungai untuk menghindari tsunami
Ketika Terjadi Gempa Bumi
Matikan api kompor jika anda sedang memasak. Matikan juga alat-alat elektronik yang dapat menyebabkan timbulnya api. Jika terjadi kebakaran di dapur, segera padamkan api dengan menggunakan alat pemadam api. Jika tidak mempunyai pemadam api gunakan pasir atau karung basah
Membuka pintu dan mencari jalan keluar dari rumah atau gedung
Cari informasi mengenai gempa bumi yang terjadi lewat televisi atau radio
Utamakan keselamatan terlebih dahulu, jika terjadi kerusakan pada tempat Anda berada, segeralah mengungsi ke tempat pengungsian terdekat
Tetap tenang dan tidak terburu-buru keluar dari rumah atau gedung. Tunggu sampai gempa mereda, dan sesudah agak tenang, ambil tas ransel berisi barang-barang keperluan darurat dan keluar dari rumah/gedung menuju ke lapangan sambil melindungi kepala dengan helm atau barang-barang yang dapat digunakan untuk melindungi kepala dari benturan reruntuhan.
Jika anda harus berjalan di tengah jalan raya, berhati-hatilah terhadap papan reklame yang jatuh, tiang listrik yang tiba-tiba rubuh, kabel listrik, pecahan kaca, dan benda-benda yang berjatuhan dari atas gedung
Pastikan tidak ada anggota keluarga yang tertinggal pada saat pergi ke tempat evakuasi. Jika bisa ajaklah tetangga dekat Anda untuk pergi bersama-sama
Jika gempa bumi terjadi pada saat Anda sedang menyetir kendaraan, jangan sekali-kali mengerem dengan mendadak atau menggunakan rem darurat. Kurangilah kecepatan secara bertahap dan hentikan kendaraan anda di bahu jalan. Jangan berhenti di dekat pompa bensin, di bawah kabel bertegangan tinggi, atau di bawah jembatan penyeberangan.

Komentar Dimatikan


GEMPA
29 April 2009, 06:07
Filed under: bebas

BANTUL – Kejadian gempa bumi yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia secara acak dan tidak bisa diprediksi kapan terjadinya, tidak akan pernah berhenti dan akan terus berlangsung di Indonesia.

?Sebagian besar wilayah Indonesia dilewati pertemuan lempeng bumi yang selalu aktif bergerak sehingga potensi pertemuan lempeng yang menyebabkan gempa bumi akan terus terjadi dan kita tidak tahu kapan akan terjadinya,? ujar Prof DR Hartono, Dekan Fakultas Geografi, UGM Yogyakarta disela-sela sarasehan Pascagempa di Aula Bank Pasar, Bantul Senin, (17/3/2008).

Menurutnya hal yang perlu dilakukan saat ini dengan kondisi daerah di Indonesia rawan terhadap gempa adalah mempersiapkan masyarakat untuk siap atau akrab dengan bencana gempa bumi seperti membangun bangunan yang aman terhadap gempa, sosialisasi dan adaptasi masyarakat menghadapi gempa bumi.

?Bencana yang bisa ditangkal oleh manusia adalah bencana banjir, longsor, kekeringan namun untuk bencana gempa bumi atau tsunami masyarakat tidak bisa menangkalnya. Itu bencana dari Allah sehingga kita pasrah kepada Tuhan,? katanya.

Lebih lanjut Hartono menegaskan para ilmuwan saat ini juga telah mengembangkan teknologi untuk menditeksi gempa maupun tsunami, namun demikian hingga saat ini belum ada alat yang bisa memprediksi kapan terjadinya gempa.

?Belum ada satupun alat canggih yang bisa memastikan kapan akan terjadi gempa dan lokasinya,? tandasnya.



k’sEtiaAn wH . .
29 April 2009, 05:41
Filed under: bebas

saat wH sEtia m atOe cO , ,

tP knP tUh cO gK sEtia m wH , ,




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.